Langsung ke konten utama

Postingan

aLamaKna: Minggu

Saat kejenuhan menumpuk, istirahat jadi solusi. Istirahat fisik maupun pikiran. Hari minggu adalah jeda dari rutinitas, menghentikan aktivitas hari senin sampai jumat/sabtu. Jeda bisa berartikan 'cukup singkat' atau 'sangat singkat' karena kenyataannya minggu tetaplah 1x24 jam dalam hitungan satu pekan 7x24. Hal itu untuk pegawai yang menganut sistem kerja lima atau enam hari kerja. Namun cukup banyak perusahaan (swarta) sekarang punya sistem kerja fleksibel. Hari kerja maupun jam kerja tidak mesti dalam ukuran satu pekan dan tak harus libur untuk hari minggu, bisa digeser dan disesuaikan. Karena yang terpenting adalah produktivitas, bukan waktu kerja.   Minggu adalah nama hari yang unik. Berbeda dengan nama hari lain yang berasal dari bahasa Arab, dia kata-pinjaman dari bahasa Portugis. Dia berakar kata 'domingo' (berarti hari-Tuhan), pada mulanya diterima sebagai 'dominggu' dalam bahasa Melayu. Dari itulah kita bisa langsung tahu, dengan mengaitkan ...

aLamaKna: Juara

Menemukan juara adalah tujuan perlombaan atau kompetisi. Yang paling baik dari yang terbaik lah yang pantas jadi juara. Kalaulah pernyataan itu dibalik, maka juara adalah semacam pembuktian bukan lagi asumsi. Asumsi sebatas pernyataan umum saja, sementara pembuktian berarti menyimpulkan. Kalau seorang atlet sudah terbiasa latihan lari 1000 km per hari, harusnya dia bisa lari yang 'hanya' 100 meter saat perlombaan. Ada bumbu prediksi atau harapan di sana. Kompetisi selalu diawali dua hal tersebut. Yang terbaiklah jadi juara, padahal keberuntungan punya skenario tersendiri. Nyatanya ada sebutir pasir yang tiba-tiba terselip di sepatu pelari di atas yang menjadikan dia tak nyaman berlari dan akhirnya gagal jadi juara. Ada juga faktor X, tak bisa didefinisikan. Jika kata 'tidak terdefinisi' terlalu berlebihan, maka cukup dikatakan bahwa sulit didefinisikan sampai kejadian itu benar-benar terjadi. Timnas Sepakbola Denmark secara mengejutkan jadi juara Piala Eropa 92...

aLamaKna: Politik

Politik ada di mana-mana. Tentang posisi yang nyaman atau gerak-gerik yang menelisik. Tentang kubu-kubu sektarian atau buku-buku radikal. Di atas kursi atau di spanduk demonstran. Di kantor atau dalam forum rapat RT. Politik secara garis besar adalah tentang suara. Bermula dan bermuara suara. Dulu orator (bisa) jadi presiden, setelahnya jenderal pun jadi. Politik digerakkan suara, dan sudah jelas semua hal bisa bersuara. Dari mulut atau senapan, suara menyalak memang pekak didengar tapi berefek mengena. Dari uang sampai motif kaos. Konotatif. Bahkan hati konon bisa bersuara. Tapi mendengar suara hati butuh lebih dari sekadar indera dan perlu hati-hati. Sekarang, televisi pun bisa lebih bersuara, volume suaranya tidak lagi diatur remote control yang kita pegang. Pidato dari mulut atau bisik-bisik dari mulut ke mulut sama-sama bersuara, cuma desibelnya berbeda-beda. Kentut juga bersuara, tapi kita tak pernah berniat menghitung kekuatan desibelnya, hanya fokus terhadap baunya. Me...

aLamaKna: Asap

Ada asap ada api. Bisa dipastikan jika ada yang terbakar api maka ada wujud asap yang keluar. Bagi seorang Indian yang tersesat atau butuh bantuan, asap digunakan sebagai tanda kepada kelompok sukunya nun jauh di sana. Asap mengepul memang terlihat mencolok. Jika kita berjalan menikmati sore yang cerah kemudian terlihat ada asap mengepul di kejauhan, seketika itu kita bertanya-tanya dan penasaran. Apa yang terjadi? Barangkali ada kebakaran. Mungkin ada kompor meleduk. Bisa juga cuma karena ada seseorang yang membakar sampah kering. Tapi yang pasti bukan  suku Indian yang berniat meminta bantuan teman sukunya. Atau Farah Quin yang sedang demonstrasi masak membakar ikan hiu. Dan bukan juga segerombolan orang yang merokok rame-rame di lapangan gede demi memecahkan rekor MURI. Sekarang, asap jadi penanda ada sesuatu yang   chaos,   keadaan   yang semerawut atau tak sesuai dan tak diharapkan. Lihat saja, kebakaran lebih sering terjadi di banyak tempat. Di perumahan k...

aLamaKna: Brengsek

Brengsek hanya salah satu ungkapan kekesalan. Kata yang lahir dari spontanitas tanpa pikir panjang dan tedeng aling-aling. Semisal ada pengendara motor ngebut menyalip dan tiba-tiba membelok tanpa menyalakan lampu sein di hadapan kita saat berkendara, bisa saja dari kita seketika terlontar kata nan (tak) sakral itu. Kata brengsek memang terdengar lebih dari sekadar menggelitik. Ia pekak di telinga dan entah kenapa mesti pekik diucapkan. Ada emosi di dalamnya, menawarkan pemuasan cepat dan melepaskan suara renyah, meski tak merdu. Jelasnya, brengsek bukan ejakulasi dari situasi atau suasana yang nyaman dan lucu. Spontanitas kata brengsek ada karena kita seringkali tak (sempat) berpikir panjang menyusun kata-kata saat dihadapkan pada situasi/seseorang yang, katakanlah, menyebalkan atau menjengkelkan. Terasa aneh jika kita mendapati situasi seperti diceritakan di awal lantas berkata, “Wahai pengguna motor yang berkendara tidak sesuai aturan lalu lintas, kiranya engkau sudi menyalakan...

aLamaKna: Sintas

“Apa dan bagaimana doa harus diucapkan?” Pertanyaan awal sebelum berdoa tersebut terasa menggelitik. Tuhan mengkhususkan sepertiga malam dan tempat di Tanah Suci untuk doa, tapi lebih dari itu Dia Maha Mendengar. Dia punya   receiver   (penerima),   bandwidth data ( luas bidang jalur data )   khusus, sistem   file,   kapasitas  penyimpanan dan mesin pemroses tersendiri. Kita sering menyebut Dia sebagai Yang Maha, maka pastilah yang Dia miliki dalam merespon doa kita dalam ukuran Maha juga, bukan sebatas mega atau tera. Jelas, Dia berbeda dengan makhluk ciptaanNya. Dia menuliskan   blueprint   (cetak biru) kehidupan manusia dengan cara Dia sendiri. Rancang bangun tentang hidup, tersebutlah suatu arsitektur megah. Tema utama tentang kehidupan, tersebutlah cerita panjang. Skema tentang penghidupan, tersebutlah suatu garis (meski) tak-linier. Kita tahu jika kita berdoa maka Tuhan akan mengabulkan. Maka pastilah sama jika kita bertanya ma...

aLamaKna: Bohong

Tulisan ini dimulai dari kutipan kalimat di buku   Le Petit Prince   karya Antoine de Saint-Exupery, “Bila ingin memancing senyum, orang kadang-kadang berbohong sedikit”. Saat kecil kita dipetuahi oleh guru dan orang tua agar tidak berbohong, “Jangan bohong, Nak. Bohong itu dosa”. Entah seberapa banyak di antara kita yang bergidik mendengar kata dosa atau mungkin malah cuma mengangguk lugu mengiyakan. Namun yang pasti sebagian dari kita, setidaknya saat kecil, takut untuk berbohong. Berbarengan dengan nasihat nan bijak itu kita disuguhi cerita si Kancil yang nakal suka mencuri timun. Si Kancil nan lincah dan cerdik yang pintar berbohong. Kisah si Kancil jadi dongeng pengantar tidur. Suatu ketika si Kancil, usai dari mencuri timun di ladang Pak Tani dengan cara membohongi Anjing penjaganya, ingin menyeberang sungai. Berhadapanlah ia dengan sekawanan buaya yang dikenal ganas dan lapar. Jangan heran bagaimana para buaya bisa berkawan hingga menjadi sekawanan, jangan tanyakan...