Langsung ke konten utama

Postingan

aLamaKna: Dahaga

Di padang pasir luas nan panas terik, segelas air sangat berharga. Air bisa lebih berharga daripada emas jikalau keduanya disandingkan untuk menghapus dahaga. Itu dalam hal seseorang tersesat di gurun dan kehausan teramat sangat. Secara sederhana air berarti kehidupan. Sejarah semenanjung/jazirah Arab membuktikan bahwa kabilah yang berkuasa adalah mereka yang menguasai mata air. Kehausan dan ketiadaan air di padang pasir bisa berarti bencana. Kini di era modern, mata air tersebut bisa berarti sumber daya alam yang lain. Konon manusia bisa bertahan hidup sekitar 1 bulan tanpa makan. Tapi tanpa minum air dia hanya bisa hidup 3-4 hari. Ditambah fakta hampir 70% tubuh manusia terdiri dari air, membuktikan dahaga lebih dari sekadar kebutuhan untuk membasahi kerongkongan. Dahaga penanda kurangnya asupan cairan ke dalam tubuh. Aktivitas fisik bisa memicu dahaga. Berpuasa, yang secara sederhana juga diartikan menahan dahaga, ditandai dengan sajian segelas air di detik awal berbuka puasa. Dar...

aLamaKna: Lapar

Hermann Heinrich Gossen, ahli ekonomi, mengamati perilaku konsumsi manusia. Lahirlah Hukum Gossen, sederhana saja sebenarnya, tentang 'kepuasan' dan 'kejenuhan'. Pemenuhan kebutuhan pada makanan berujung pada kata kenyang. Bahasa ekonominya, tingkat utilitas terpenuhi. Segelas air akan cukup menyegarkan kerongkongan di siang hari nan panas, disajikan dingin lebih nikmat. Dua gelas lebih dari cukup dan tiga gelas berarti jenuh. Saat bulan puasa, dua atau tiga gelas air di penghujung sore bisa tandas sebagai penawar dahaga. Puasa begitu identik dengan lapar dan dahaga, meski sebenarnya lebih dari itu.  Dari rasa lapar karena puasa kita mendapati bahwa makan bisa terasa lebih enak tinimbang hari biasa. Kecuali sedang sakit gigi, tiap butir nasi bisa kita nikmati benar meski dengan lauk sederhana. Rasa lapar adalah bumbu makanan paling enak. Setelah perut kenyang berkat beberapa potong gorengan dan dua gelas es sirup, maka rendang yang disajikan kemudian tak akan menggod...

aLamaKna: Tawa

Senyum menggerakkan 11 sampai 17 otot di wajah. Sedangkan cemberut menggerakkan lebih dari 30 otot. Karena itu disarankan senyum tinimbang cemberut. Otot cepat kendur jika terlampau sering cemberut. Cemberut bikin cepat tua, kata banyak orang. Tapi, jika ukurannya gerakan otot, tertawa pastilah lebih banyak menggerakkan otot dan seharusnya lebih cepat mengendurkan otot. Hanya saja tertawa bisa memacu kehadiran hormon dan memberi efek relaksasi. Maka, tertawa lebih disarankan daripada sekadar senyum. Di luar sana ada terapi tertawa, bagi mereka yang terlampau jenuh bahkan kehilangan selera humor karena rutinitas. Rutinitas memang kejam, dia membuatmu bosan dan jadi serba-serius. Bahkan pelawak yang rutin menampilkan humor pun kewalahan dan tertekan dengan kesibukan yang memaksa mereka harus tetap lucu di tiap saat. Tertawa menandai kebahagiaanmu, jeda di tengah kesibukanmu. Hal yang menggelikan bisa memicumu untuk tersenyum. Humor nan lucu dapat membuatmu tertawa. Lepas atau tidaknya...

aLamaKna: Tol

Saya pernah menuliskan pandangan positif tentang kemacetan di jalan. Bahwa macet adalah sekian banyak mobil hanya sedang antri dan seolah etalase mobil berbagai jenis dan merek. Pandangan lain saya tentang kemacetan adalah pembangunan terlihat jelas. Jalan penggerak roda ekonomi, pengerek kehidupan, dan penera kesibukan. Di Indonesia pedagang asongan pun bisa masuk jalan tol. Jadilah indikator kemacetan parah adalah adanya pedagang asongan (bukan adanya Si Komo lewat, ya!). Soal profit dan benefit adanya tol biar para ekonom menghitungnya, termasuk profit tol bagi pedagang asongan dan benefit tol bagi petani miskin atau orang kelaparan di desa ujung Pulau Jawa. Jalan tol dibangun disertai niat sebagai solusi kemacetan. Jauh panggang dari api, jalan tol bertambah, mobil melesat kuantitasnya. Tol adalah solusi sementara atau jangka pendek, solusi reaktif atas tuntutan perhubungan yang lancar. Kalaulah dalam tol ternyata kemacetan lebih parah tinimbang jalan biasa, istilah jalan be...

aLamaKna: Peran

Karl Heinrich Marx adalah sang sosialis, tepatnya pengkritik kapitalisme. Dari sosialisme berlanjut dengan modifikasinya jadi komunisme, stalinisme, maoisme, dan bahkan marhaenisme. Karl Marx identik sebagai seorang filsuf, penggagas sosialisme. Padahal dia juga ekonom, sejarawan, bahkan jurnalis disamping sosiolog yang punya teori tentang kejahatan/kriminal. Yang menjadikan seseorang sejarawan adalah keahlian atau cukup adanya minat lebih dia terhadap (ilmu) sejarah. Senada dengan definisi sosiolog, sederhananya ganti saja kata sejarah pada pengertian tadi dengan kata sosial. Seiring waktu, kita kini mengenal, atau bisa jadi dikenalkan, secara sederhana Karl Marx sebagai filsuf saja. Hanya jika kita membaca biografinya di wikipedia atau tulisan sejarah, kita akan mendapat info dia lebih dari sekadar filsuf. Hal tersebut seperti kita mengenal Benjamin Franklin sebagai Presiden AS. Padahal Franklin adalah ilmuwan sekaligus penulis juga penemu bahkan negarawan serta diplomat. Kata...

aLamaKna: Sepakbola

Yang Spesial, Mourinho, berseteru lagi. Kata 'lagi' cukup menjelaskan bahwa ini bukan yang pertama. Sejak menjejakkan diri di ranah Inggris dengan menangani Chelsea dia sudah menunjukkan kemampuan strategis di dalam dan, tentu saja, di luar lapangan. Kali ini dia mengawali dengan sindiran "badut" melalui media. Itu jelas pancingan, kepada Klopp dan Conte. Bukan Mou kalau tidak cari rusuh dan musuh. Yang merespon cuma dan hanya Conte. Mou, panggilan Mourinho, dikenal pelatih/manajer cum 'psikolog hebat'. Kemampuan perang urat saraf tak diragukan, emosi musuh campur aduk. Taktis dan dinamis bertolak belakang dengan pilihan strategi permainannya. Dia bisa diam cuek lantas tiba-tiba berkomentar tajam, kepada pelatih lawan bahkan ke pemain sendiri. Conte masuk perangkap. Jelas Mou sudah menyiapkan jawaban-jawaban atas (apapun) respon Conte. Dia sudah menghapal skrip yang dia susun. Di akhir-akhir Conte mati kutu, dengan kepala mendidih, cuma bisa bilang "s...

aLamaKna: Sukses

Dengkul kita berharga lebih dari 1 miliar kata mendiang Bob Sadino. Maksud Om Bob mengingatkan bahwa dengkul kita sebenarnya tak ternilai dalam berusaha. Usaha ditentukan kemauan, soal kesempatan bisa dicipta. Tapi mendedah kotak kemauan kita sulit tak terkira. Kotak kemampuan kita berjejeran dengan kemauan kita. Hanya saja keduanya entah di mana dan tertindih di antara sekian banyak kotak rasa malu kita di ruang pikiran kita. Teorinya adalah mau kemudian mampu, namun malu menginterupsi pikiran.  Bob Sadino sosok yang eksentrik. Kerap bercelana pendek, memperlihatkan dengkulnya yang tak ternilai, cuap-cuap dengan gaya slengean. Boleh lah kita percaya kepada dia. Tidak jadi soal dia sudah meninggal, cukup cari nama dia di Youtube. CV-nya dijejali keberhasilan dia sebagai seorang pengusaha. CV yang tentu saja dituliskan orang lain sebab dia sendiri sebagai pengampu sekian banyak perusahaan tentu nyaris tak pernah menulis CV untuk melamar kerja.  Di tiap CV selalu yang t...